Tuesday, 1 March 2016

Obat Antiepilepsi

Obat Antiepilepsi

Epilepsi merupakan suatu gangguan fungsional kronik pada otak yang ditandai dengan aktivitas serangan berulang, bisa berupa kejang. Di lain pihak, otak berperan dalam mengkoordinasi aktivitas tubuh, antara lain pergerakan otot,  berpikir, penglihatan, dan perasaan. Apabila terjadi trauma kepala, stroke, konsumsi alkohol, hipertermia, bisa mengakibatkan picuan pada daerah otak yang bisa bersifat lokal atau menyeluruh sehingga menimbulkan epilepsi. Epilepsi dibedakan menjadi 2, yaitu : (1) epilepsi parsial, serangan awal terlokalikasi, pasien masih dalam kondisi sadar; dan (2) epilepsi umum, yang melibatkan bagian otak yang lebih luas, dan menyebabkan pasien tidak sadar.
Epilepsi parsial dibagi menjadi 3, yaitu :
  1. Epilepsi parsial sederhana. Epilepsi ini merupakan jenis yang paling sederhana. Penderita mengalami sentakan klonik (kedutan) pada jari atau wajah, yang kemudian bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya. Penerita sadar atas serangan tersebut.
  2. Epilepsi parsial kompleks. Serangan awal terlokalisasi namun letupannya meluas, bersifat bilateral. Epilepsi ini ditandai dengan gangguan mental sementara dan gerakan otomatis yang tidak bertujuan (seperti bertepuk tangan, menjilat bibir). Penderita sadar atas serangan atau kejang tersebut.
  3. Epilepsi parsial dengan serangan umum sekunder. Epilepsi parsial yang secara mendadak mendahului epilepsi tonik-klonik.
Epilepsi umum dibagi menjadi 2, yaitu : 
  1. Epilepsi tonik-klonik (grand mal). Epilepsi dengan serangan klasik, biasanya didahului dengan perubahan aura, diikuti dengan hilangnya kesadaran dan kejang tonik-klonik (gerakan tersentak-sentak). Lidah mungkin bisa tergigit. Pada balita, kondisi demam bisa memicu tonik-klonik. Epilepsi dipicu oleh awitan hipertermia akibat infeksi virus atau bakteri.
  2. Epilepsi absense (petit mal). Epilepsi yang ditandai dengan serangan mendadak mengakibatkan kesadaran penderita hilang dalam beberapa detik dan berhenti secara tiba-tiba.
Klasifikasi Obat
Sasaran dari terapi penyakit epilepsi dibagi menjadi 3, yaitu (1) Peningkatan aksi asam amino inhibitor GABA; (2) Penghambatan kanal ion natrium; dan (3) Penghambatan kanal ion kalsium. 
Sedangkan berdasarkan jenis epilepsinya, klasifikasi obatnya dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :
  1. Obat epilepsi parsial, misalnya Karbamazepin, Klonazepam, Fenitoin dan Valproat.
  2. Obat epilepsi tonik-klonik (grand mal), misalnya Karbamazepin (sering digunakan karena efek samping yang rendah), Fenitoin, dan Valproat. Obat baru yang biasa digunakan untuk penanganan epilepsi jenis ini adalah Vigabatrin, Gabapentin, Lamotrigin dan Felbamat.
  3. Obat epilepsi absence (petit mal), misalnya Etoksuksimid. Namun Valproat bisa juga digunakan pada epilepsi absence yang muncul bersamaan dengan epilepsi tonik-klonik.
Obat yang meningkatkan aksi GABA (Asam Gama Amino Butirat)
Peningkatan aksi GABA bisa dilakukan dengan beberapa cara :
  1. Memodulasi aksi GABA pada reseptor GABA. Obat-obatan yang bekerja dengan cara ini meningkatkan proses aktivasi reseptor GABAa oleh agonis GABA, yang berperan dalam pembentukan kanal ion klorida sehingga menghasilkan penurunan eksitabilitas sel syaraf. Contoh obatnya : Fenobarbital, dan Benzodiazepin.
  2. Agonis reseptor GABAa. Obat ini bekerja dengan cara mengaktivasi langsung reseptor GABAa. Contoh obatnya adalah Gabapentin.
  3. Menghambat enzim GABA transaminase. Obat ini bekerja dengan menghambat GABA transaminase, yaitu suatu enzim yang menginaktivasi GABA. Contoh obatnya adalah Vigabatrin.
  4. Menghambat pengambilan kembali (reuptake) GABA. Proses inaktivasi GABA juka dilakukan dengan proses pengambilan kembali GABA (bila produksinya berlebihan) ke ujung syaraf postsinaptik. Obat ini menghambat proses tersebut sehingga meningkatkan konsentrasi GABA di celah sinaptik. Contoh obatnya adalah : Tiagabin.
Obat penghambat kanal ion natrium
Pembukaan kanal ion natrium pada membran sel mengakibatkan masuknya ion tersebut ke dalam sel dan mengakibatkan peningkatan eksitabilitas pada sel syaraf. Pada kondisi kanal ion aktif (terbuka), ion natrium akan masuk (influks) ke dalam sel syaraf dan meningkatkan potensial aksi sel. Sedangkan pada kondisi inaktif (tertutup), ada dua kemungkinan, yaitu (1) ion natrium masih berada di ekstraseluler (belum masuk) atau (2) ion natrium di dalam sel (dari proses influks), kanal ion natrium tertutup, diikuti pembukaan kanal ion kalium yang mengakibatkan kalium keluar sel syaraf (efluks) sehingga menghasilkan hiperpolarisasi atau penurunan eksitabilitas sel. Obat epilepsi ini bekerja dengan memblok kanal ion natrium pada kondisi inaktif , sehingga kondisi eksitabilitas sel syaraf yang rendah bisa dipertahankan. Contoh obat yang masuk dalam golongan ini adalah : Fenitoin, Karbamazepin, Lamotrigin, dan Valproat. 

Penghambatan kanal ion kalsium
Pada epilepsi absence (petit mal), serangan epilepsi disebabkan oleh terbukanya kanal ion kalsium tipe-T. Contoh obat golongan ini adalah Etoksuksimid.

Seputar Penggunaan Obat Epilepsi
Dari klasifikasi di atas, terdapat empat obat yang terpenting, yaitu Karbamazepin, Valproat dan Etoksuksimid. Fenitoin merupakan obat yang efektif pada penanganan epilepsi kecuali pada kasus epilepsi absence. Farmakokinetika Fenitoin adalah non-linear atau dapat mengalami kejenuhan dalam tubuh. Oleh karena itu, konsentrasi obat dalam tubuh dapat bervariasi sehingga membutuhkan monitoring. Dalam darah, Fenitoin terikat kuat oleh protein plasma darah (90%), sehingga pemakaian dengan obat lain yang terikat kuat dengan protein (seperti Fenilbutazon dan Sulfonamida) dapat menaikkan konsentrasi obat bebas secara mendadak. 
Karbamazepin merupakan turunan dari antidepresan trisiklik. Seperti halnya Fenitoin, obat ini juga efektif dalam penanganan epilepsi, kecuali epilepsi absence. Karbamazepin mempunyai efek samping yang lebih rendah meskipun kemampuan induksi enzim metabolismenya kuat sehingga berpotensi untuk berinteraksi dengan obat lainnya. 
Valproat merupakan asam monokarboksilat, digunakan pada semua jenis epilepsi yang telah dijelaskan di atas, namun berpotensi menyebabkan hepatotoksik meskipun insidensinya rendah.

Sumber : Dr. Agung Endro Nugroho, 2011. Farmakologi Obat-Obat Penting dalam Pembelajaran Farmasi dan Dunia Kesehatan. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
Baca selengkapnya

Obat-Obat Penting Yang Harus Anda Ketahui - Part D

Semangat pagi sobat Pharmacy World yang luar biasa... Dalam postingan kali ini saya mau sharing sedikit informasi tentang Obat-Obat Penting Yang Harus Anda Ketahui - Part D. 
Dalam postingan sebelumnya sudah saya sharing informasi mengenai obat-obat penting yang harus Anda ketahui part A, B dan C.
Seperti pada postingan sebelumnya, file-file informasi obat yang saya bagikan di sini adalah file PDF. Sobat sekalian tinggal menDownloadnya dan tinggal dibaca saja...
Kalo masih ada dari sobat sekalian yang belum paham tentang cara downloadnya, saya kasih lagi panduan downloadnya di sini.
Sobat sekalian tinggal meng-Klik saja nama-nama obat yang tertera di bawah ini. Terus, sobat sekalian diantarkan ke halaman Adf.Ly. Setelah proses loadingnya selesai, sobat sekalian Klik tombol Skip Ad yang ada di pojok kanan atas..
After that, sobat sekalian akan diantarkan ke halaman download di google drive... tinggal sobat sekalian klik tombol unduh/downloadnya saja... 
Cara downloadnya simple kan????
Okey, kalo sobat sekalian sudah paham tentang cara downloadnya, kita langsung saja ke TeKaPe....
=> Domperidone
=> Doxicycline

Okey, juragan sekalian.... Yang merasa masih kurang informasi mengenai obat-obatan, silahkan didownload dan pelajari... yang merasa sudah punya informasi yang lengkap tentang obat-obatan, silahkan abaikan saja... hehehehehe....
Salam Luar Biasa...
Baca selengkapnya
Obat Penyakit Parkinson

Obat Penyakit Parkinson

Mengenal Penyakit Parkinson
Parkinson merupakan penyakit degradatif pada syaraf yang ditandai dengan hipokinesia (penurunan fungsi motorik secara abnormal), tremor, kekakuan muskular (otot), serta hilangnya refleks postural. Penyebab penyakit ini belum diketahui dengan pasti atau idiopatik, namun dalam beberapa kasus dapat disebabkan oleh iskemia otak, ensefalitis virus atau obat (seperti obat-obatan golongan Antipsikotik dan Reserpin).
Pada kondisi normal, dopamin pada substansia nigra pada bagian pars compacta berfungsi untuk menghambat asetilkolin pada striatum (bagian basal ganglion). Basal ganglion sendiri merupakan bagian dari sistem ekstrapiramidal, dan berperan untuk mengawali, memodulasi dan mengakhiri pergerakan serta mengatur gerakan-gerakan otomatis. Jika asetilkolin pada striatum dihambat, maka menyebabkan aktivitas GABA (Asam Gama Amino Butirat) di stiatum akan meningkat. GABA striatum berkurang menyebabkan peningkatan GABA di substansia nigra. Selanjutnya, peningkatan aktivitas GABA tersebut akan meningkatkan pengendalian saraf di talamus dan korteks untuk mengatur gerakan. Pada sistem tersebut, posisi dopamin adalah pengendali utama yang akhirnya berfungsi dalam pengatur gerakan. 
Secara homeostasis, jika dopamin pada substansia nigra tinggi, asetilkolin di striatum berkurang, GABA di substansia nigra meningkat, aktivitas syaraf di talamus berkurang, dan menurunkan aktivitas gerakan tubuh. Jika dopamin pada substansia nigra rendah, asetilkolin di striatum meningkat, GABA di substansia berkurang, aktivitas syaraf di talamus meningkat, sehingga meningkatkan aktivitas gerakan tubuh. Kejadian tersebut berjalan secara bergantian.
Pada kondisi parkinson, terjadi penurunan syaraf dopaminergik pada substansia nigra bagian pars compacta. Dampaknya adalah asetilkolin di striatum meningkat, GABA di substansia nigra berkurang, aktivitas syaraf di talamus meningkat, sehingga terjadi rigiditas atau kekakuan otot.
Jadi, secara ringkas dapat kita katakan bahwa terjadi ketidakseimbangan, kadar dopamin rendah dan asetilkolin tinggi pada sistem motor ekstrapiramidal.

Klasifikasi Obat
Sasaran pengobatan pada pengobatan penyakit Parkinson adalah : 1) menaikkan aktivitas dopamin dan 2) menurunkan aktivitas asetilkolin dalam sistem motorik ekstrapiramidal.

Terapi penggantian dopamin (dopamin replacement therapy)
Dopamin dihasilkan di otak, namun tidak bisa menembus barier (sawar) darah otak, artinya aktivitas dopamin terkonsentrasi di otak dan tidak di perifer. Dopamin ini dihasilkan oleh dopa dan melibatkan enzim dopa dekarboksilase. Dilain pihak dopamin termasuk amina biogenik sehingga bisa didegradasi oleh enzim MAO (Monoamin Oksidase) dan COMT.
Berkaitan dengan itu, terapi penggantian dopamin dilakukan dengan pemberian Levodopa (L-dopa), yang merupakan prekurkos (bahan baku) sintesis dopamin yang dapat menembus barier darah otak, dan mengalami dekarboksilase menjadi dopamin di otak. Permasalahannya, pemberian Levodopa tersebut akan mengalami dekarboksilasi di perifer sehingga akan membutuhkan dosis yang besar dan menghasilkan efek samping. Oleh karena itu, enzim dekarboksilasi di perifer harus dihambat oleh senyawa yang tidak bisa menembus barier darah otak, yaitu Karbidopa atau Benserazid. Oleh karena itu, kombinasi Levodopa dan Karbidopa  digunakan untuk terapi Parkinson, dan kombinasi tersebut adalah lini pertama dalam terapi tersebut. Sebagai catatan, Levodopa efektif pada penggunaan awal, namun efikasinya berkurang atau bahkan hilang setelah penggunaan lebih dari 2 tahun.
Di samping itu, Levodopa juga bisa dikombinasi dengan COMT-inhibitor dengan tujuan menghambat proses degradasi atau metabolisme dopamin sehingga dapat memperpanjang waktu paruh  dopamin. Contoh obat ini (COMT-inhibitor) adalah Tolkapon dan Entakapon. Tolkapon sudah mulai ditarik dari peredaran karena menyebabkan toksisitas pada hati (hepatotoksik).

Agonis dopamin
Pada patofisiologi parkinson, syaraf penghasil dopamin mengalami penurunan, namun secara fungsional reseptor dopamin masih ada. Oleh karena itu, tujuan pemberian agonis dopamin adalah untuk mengaktivasi reseptor dopamin postsinaptik tersebut untuk menjaga keseimbangan pada ganglia basalis. Bromokriptin merupakan agonis reseptor dopamin D-2. Obat ini aksinya lama (6-8 jam) dibandingkan dengan Levodopa. Obat ini mulai digunakan apabila pasien mulai kurang peka terhadap Levodopa, yang kemungkinan disebabkan oleh menurunnya aktivitas syaraf dopaminergik. Contoh obat lainnya dalam golongan agonis dopamin ini adalah Pergolid, Lisurid, Pramipeksol, Apomorfin, dan Ropinirol. Namun, aktivitas pada reseptor dopamin di kelenjar pituitari dapat menghambat produksi prolaktin.

MAO-B Inhibitor
Monoamin oksidase (MAO) berperan dalam degradasi senyawa amin biogenik. MAO-A cenderung memetabolisme NA, 5-HT, dan dopamin, sedangkan MAO-B cenderung hanya memetabolisme dopamin. MAO-B banyak dijumpai pada bagian di otak yang mengandung dopamin. Penghambatan spesifik pada MAO-B bertujuan untuk menghambat proses degradasi dopamin dalam otak, dan memperpanjang efeknya. Di samping itu, obat-obatan MAO-B inhibitor cenderung menghasilkan efek samping yang relatif rendah. Contoh obat yang masuk dalam golongan ini adalah Selegilin. Obat ini digunakan dalam terapi kombinasi dengan Levodopa.

Pemacu pelepasan dopamin
Contoh obatnya adalah Amantadin. Obat ini sebenarnya merupakan suatu agen antivirus, namun dapat juga menurunkan gejala-gejala pada pasien Parkinson. Mekanisme aksi dari obat ini adalah menghambat pelepasan dopamin dan norepinefrin dari ujung syaraf otak. Obat ini juga mempunyai aktivitas sebagai antikolinergik meskipun relatif lemah. Amantadin bisa digunakan dalam bentuk tunggal, atau dalam kombinasi dengan Levodopa. Kombinasi tersebut bertujuan untuk mencegah fluktuasi motorik atau diskinesia, akibat penggunaan Levodopa tersebut.

Antagonis asetilkolin
Obat ini ditujukan untuk menurunkan aktivitas asetilkolin dalam otak untuk menjaga keseimbangan sistem motorik ekstrapiramidal. Aktivitas reseptor asetilkolin muskarinik akan menghasilkan : 1) efek eksitatori pada striatum basal ganglia, berlawan efek dengan dopamin, dan 2) menghambat presinaptik ujung syaraf dopaminergik. Contoh obatnya adalah Triheksifenidil, Benztropin, dan Biperin. Efek samping dari obat ini adalah mulut kering, kontipasi, retensi urine, dan gejala kebingungan.

Sumber :  Dr. Agung Endro Nugroho, 2011. Farmakologi Obat-Obat Penting dalam Pembelajaran Ilmu Farmasi dan Dunia Kesehatan. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
Baca selengkapnya

Monday, 29 February 2016

Gagal Ginjal Kronis dan Penatalaksanaannya

Gagal Ginjal Kronis dan Penatalaksanaannya

Pengertian Gagal Ginjal Kronis 
Penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease/CKD)  adalah kondisi saat fungsi ginjal mulai menurun secara bertahap. Kondisi ini bersifat permanen. Status CKD berubah menjadi gagal ginjal ketika fungsi ginjal telah menurun hingga mencapai tahap atau stadium akhir.
CKD adalah penyakit yang umumnya baru dapat dideteksi melalui tes urin dan darah. Gejalanya yang bersifat umum membuat pengidap penyakit ini biasanya tidak menyadari gejalanya hingga mencapai stadium lanjut.
CKD stadium lanjut umumnya mengalami gejala: sesak napas, mual, kelelahan, mengalami pembengkakan pergelangan kaki, kaki, atau tangan karena terjadi penumpukan cairan pada sirkulasi tubuh, sesak napas, serta munculnya darah dalam urin.
Pemeriksaan darah dan urin secara teratur setiap tahun sangat disarankan bagi orang-orang yang berisiko tinggi mengidap penyakit ginjal kronis. Anda termasuk berisiko tinggi, antara lain jika memiliki tekanan darah tinggi, mengidap diabetes, dan memiliki riwayat keluarga pengidap penyakit ginjal kronis.

Fungsi Ginjal dan Penyebab Gangguan Ginjal Kronis 
Ginjal terletak di bawah tulang rusuk. Bentuknya menyerupai sepasang kacang di kedua sisi tubuh.
Selain memiliki fungsi utama menyaring limbah dari darah sebelum diubah menjadi urin, ginjal juga berfungsi:
  1. Mengatur kadar bahan kimia dalam tubuh sehingga membantu jantung dan otot agar bekerja dengan baik. 
  2. Membantu mengatur tekanan darah. 
  3. Memproduksi zat sejenis vitamin D yang menjaga kesehatan tulang. 
  4. Memproduksi hormon glikoprotein  disebut erythropoietin yang membantu merangsang produksi sel-sel darah merah. 
Beberapa kondisi seperti diabetes dan tekanan darah tinggi menjadi penyebab terjadinya tekanan pada ginjal. Dalam jangka panjang, kondisi-kondisi ini membuat  fungsi-fungsi di atas tidak akan berjalan dengan baik.

Pengidap Penyakit Ginjal Kronis di Indonesia 
Penyakit ginjal kronis diderita sekitar 10% populasi dunia.  Tingginya jumlah penderita diabetes di Asia membuat gagal ginjal lebih umum terjadi pada penduduk Asia. Selain diabetes, tekanan darah tinggi juga menjadi salah satu penyebab terkuat terjadinya penyakit ginjal kronis di Asia. Indonesia termasuk ke dalam 10 besar negara di Asia dengan kasus penyakit gagal ginjal tertinggi.
PERNEFRI (Perhimpunan Nefrologi Indonesia) dan Kementerian Kesehatan menemukan bahwa penderita gagal ginjal kronis di Indonesia mencapai 25 sampai 30 juta orang.
Selain itu, penyakit ini juga diasosiasikan dengan penuaan. Semakin tua, Anda semakin berisiko mengidap gangguan ginjal. Orang lanjut usia, dimulai dari 60 tahun, paling berisiko mengidap penyakit ginjal kronis. Diperkirakan satu dari lima pria dan satu dari empat wanita berusia 65 – 74 mengidap gagal ginjal dalam stadium tertentu.

Berbagai Cara Penanganan Gangguan Ginjal Kronis 
Terdiagnosis mengidap CKD dapat membuat Anda dan kerabat merasa cemas. Berkonsultasi dengan dokter dan sesama pengidap dapat membuat Anda menemukan cara agar penyakit ini tidak mengambil alih hidup Anda.
Ini dikarenakan memang tidak ada obat yang dapat menyembuhkan gagal ginjal. Perawatan terhadap penyakit ini hanya berfokus memperlambat atau menghentikan perkembangan penyakit dan mencegah munculnya kondisi serius lain.
Perubahan yang terjadi dalam sirkulasi tubuh membuat pengidap penyakit ginjal kronis menjadi lebih berisiko menderita stroke atau serangan jantung.
Pada sebagian orang, penyakit ginjal kronis dapat menyebabkan ginjal berhenti berfungsi sepenuhnya. Kondisi ini disebut gagal ginjal stadium akhir (established renal failure/ERF). Perawatan cuci darah dapat membantu pengidap ERF agar tetap hidup. Proses kerja perawatan ini menyerupai ginjal buatan.

Agar Terhindar dari Gangguan Ginjal Kronis 
Pengidap kondisi-kondisi tertentu yang berisiko mengarah ke penyakit ginjal kronis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi disarankan untuk mewaspadai perkembangan penyakit mereka. Perubahan gaya hidup seperti pola makan sehat, berolahraga teratur, dan menghindari kelebihan konsumsi minuman keras akan membantu mencegah terjadinya gagal ginjal.

Gejala Gagal Ginjal Kronis 
Umumnya tubuh dapat menoleransi berkurangnya fungsi ginjal, bahkan dalam skala besar. Situasi ini membuat pengidap penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease/CKD) tidak merasa mengalami gejala apapun.
Jika salah satu ginjal Anda rusak, fungsi ginjal manusia masih tetap dapat terpenuhi hanya dengan satu ginjal lain. Fakta ini membuktikan bahwa manusia terlahir dengan kapasitas fungsi ginjal yang jauh lebih banyak dari yang sebenarnya dibutuhkan untuk bertahan hidup.
Penurunan awal fungsi ginjal yang tanpa gejala ini membuat pengidap CKD kerap tidak segera menyadari penyakitnya. Perubahan fungsi ginjal umumnya baru dapat terdeteksi pasti dari pemeriksaan urin dan darah secara rutin.
Pengidap penyakit ginjal yang telah terdiagnosis akan menjalani pemeriksaan secara teratur untuk memantau fungsi ginjalnya. Pemeriksaan ini dilakukan dengan tes darah dan perawatan yang bertujuan mencegah agar penyakit tidak berkembang.
Tes darah dan pemantauan rutin ini juga berfungsi untuk mendeteksi jika ginjal mulai kehilangan fungsi dan mengarah pada gagal ginjal. Gagal ginjal menunjukkan gejala sebagai berikut:
  1. Lebih sering ingin buang air kecil, terutama di malam hari. 
  2. Kulit gatal. 
  3. Adanya darah atau protein dalam urin yang dideteksi saat tes urin. 
  4. Kram otot. 
  5. Kehilangan berat badan. 
  6. Kehilangan nafsu makan. 
  7. Penumpukan cairan yang mengakibatkan pembengkakan pada pergelangan kaki, kaki, atau tangan. 
  8. Nyeri pada dada, akibat cairan menumpuk di sekitar jantung. 
  9. Otot kejang. 
  10. Sesak napas. 
  11. Mual dan muntah. 
  12. Gangguan tidur. 
  13. Disfungsi ereksi pada pria.
Pengobatan pada stadium awal penyakit ginjal kronis dapat mencegah timbulnya gejala-gejala di atas.

Penyebab Gagal Ginjal Kronis 
Kondisi-kondisi yang menekan ginjal menjadi penyebab utama terjadinya penyakit ginjal. Penyakit ginjal terutama disebabkan oleh tekanan darah tinggi atau hipertensi dan diabetes. Sekitar 25 persen kasus gagal ginjal diindikasikan terpicu oleh tekanan darah tinggi, sementara 30 persen terpicu oleh diabetes.

Gangguan Ginjal pada Pengidap Diabetes 
Diabetes merupakan salah satu penyebab utama terhadap penyakit gagal ginjal kronis. Terdapat dua tipe utama diabetes:
  1. Diabetes tipe 1 adalah kondisi saat tubuh tidak memproduksi cukup insulin. 
  2. Diabetes tipe 2 adalah kondisi saat tubuh tidak menggunakan insulin dengan efektif.
Insulin dibutuhkan oleh tubuh untuk menjalankan fungsi-fungsi berikut ini: 
  1. Mengatur kadar glukosa (gula) dalam darah. 
  2. Membatasi agar glukosa tidak meningkat terlalu tinggi setelah makan. 
  3. Menjaga agar kadar glukosa tidak terlalu rendah pada jeda antara waktu makan. 
Jika glukosa dalam darah terlalu tinggi, ini dapat memengaruhi kemampuan ginjal untuk menyaring kotoran dalam darah dengan merusak sistem penyaringan ginjal. Maka itu sangat penting bagi penderita diabetes untuk menjaga tingkat glukosa mereka melalui pola makan yang sehat dan mengonsumsi obat-obat antidiabetes sesuai aturan dari dokter. 
Gagal ginjal diperkirakan diderita sekitar 1-2 dari 5 pengidap diabetes tipe 1 sebelum umur mereka mencapai 50 tahun. Hal ini juga terjadi pada pengidap diabetes tipe 2 yang 1 dari 3 di antaranya juga mengalami tanda-tanda kerusakan ginjal. 
Tes urin tahunan akan direkomendasikan oleh dokter agar gangguan ginjal dapat dideteksi secepat mungkin. Adanya protein dalam kadar rendah pada urin merupakan gejala utama gangguan ginjal akibat diabetes.

Gangguan Ginjal pada Pengidap Tekanan Darah Tinggi 
Tekanan darah adalah ukuran tekanan saat jantung memompa darah ke pembuluh arteri dalam setiap denyut nadi. Tekanan darah kerap diasosiasikan dengan penyakit ginjal karena tekanan darah yang berlebihan dapat merusak organ tubuh Anda. 
Hipertensi menghambat proses penyaringan dalam ginjal bekerja dengan baik. Kondisi ini merusak ginjal dengan menekan pembuluh darah kecil dalam organ tersebut. 
Meski 9 dari 10 penyebab kasus tekanan darah tinggi tidak diketahui, namun ada kaitan antara kondisi tersebut dengan kesehatan tubuh seseorang secara menyeluruh, termasuk pola makan dan gaya hidup. 
Orang yang mengidap kondisi atau memiliki kebiasaan tertentu lebih berisiko mengidap hipertensi, yaitu: kurang berolahraga, kebiasaan merokok, stres, obesitas, mengonsumsi minuman keras berlebihan, usia tua, terdapat anggota keluarga yang dulu mengidap hipertensi, terlalu banyak garam dan lemak dalam makanan yang dikonsumsi, serta kurang potasium dan vitamin D.

Hal-hal Lain yang Menyebabkan Gangguan Ginjal Kronis 
Ada beberapa kondisi lain yang lebih tidak umum, tapi juga berisiko menyebabkan penyakit ginjal kronis yaitu: 
  1. Gangguan ginjal polisistik: kondisi saat kedua ginjal berukuran lebih besar dari normal karena pertambahan massa kista. Kondisi ini bersifat diwariskan. 
  2. Peradangan pada ginjal. 
  3. Infeksi pada ginjal. 
  4. Penyumbatan, seperti yang disebabkan batu ginjal atau gangguan prostat 
  5. Penggunaan rutin obat-obatan tertentu dalam jangka panjang, seperti obat anti-inflamasi non-steroid (non-steroidal anti-inflammatory drugs/NSAIDs), termasuk aspirin dan ibuprofen. 
  6. Lupus eritematosus sistemik (kondisi saat sistem kekebalan tubuh menyerang dan mengenali ginjal sebagai jaringan asing). 
  7. Kegagalan pertumbuhan ginjal pada janin saat dalam kandungan.
Menggunakan Kalkulator Risiko Ginjal 
Bagaimana cara untuk memperkirakan kondisi ginjal lima tahun yang akan datang? Anda dapat menggunakan kalkulator risiko ginjal dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana di QKidney Web Calculator. Jika saat ini Anda mengidap gangguan ginjal stadium menengah, Anda juga dapat memperkirakan apakah gangguan tersebut menjadi lebih parah lima tahun ke depan.

Diagnosis Gagal Ginjal Kronis 
Umumnya diagnosis penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease/CKD) dilakukan melalui tes urin dan darah. Dulu, gangguan ginjal sering baru teridentifikasi saat sudah mencapai stadium akhir. Ini dikarenakan orang yang tidak berisiko tinggi biasanya tidak menjalani pemeriksaan secara teratur. Namun kini diagnosis umumnya bisa dilakukan oleh dokter umum sehingga pengobatan secara efektif dapat dilakukan lebih awal.

Tes-Tes Untuk Mendeteksi Kadar Kerusakan Ginjal 
Ada beberapa tes yang dapat digunakan untuk menentukan kadar kerusakan pada ginjal Anda. Tes-tes tersebut meliputi:

Tes Urin 
Salah satu gejala penyakit ginjal adalah terdapat protein atau darah dalam urin Anda. Maka tes ini digunakan untuk mengecek kemungkinan kandungan tersebut. Beberapa hasil tes urin perlu dikirim ke laboratorium untuk dikonfirmasi. Sementara hasil beberapa tes lain dapat segera diperoleh.

Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) 
Laju filtrasi glomerulus/LFG (glomerular filtration rate/GFR) adalah pengukuran yang digunakan untuk menilai seberapa baik ginjal Anda bekerja. Penghitungan GFR melibatkan pengambilan sampel darah dan dihitung berdasarkan usia, jenis kelamin, dan kelompok etnis Anda. Hasil GFR serupa dengan persentase kapasitas fungsi ginjal normal.

Pemindaian 
Dalam kasus gangguan ginjal stadium lanjut, ginjal menjadi mengerut dan berbentuk tidak utuh. Sebelum perubahan bentuk ginjal tersebut terjadi, pemindaian digunakan untuk mengetahui apakah terjadi penyumbatan tidak normal dalam aliran urin Anda. Proses ini dilakukan dengan alat-alat seperti USG, computerised tomography (CT) scan, atau pemindaian magnetic resonance imaging (MRI).

Biopsi Ginjal 
Biopsi dilakukan dengan mengambil sampel kecil dari jaringan ginjal. Deteksi kerusakan ginjal kemudian dilakukan dengan memeriksa sel-sel ini dengan mikroskop.

Menentukan Stadium Gagal Ginjal 
Perkembangan penyakit ginjal diklasifikasi dengan sistem pemeringkatan (stadium). Terdapat lima stadium untuk mendefinisikan tingkat keparahan kanker hati:
  1. eGFR bernilai di atas 90 atau normal: stadium 1. Walau nilai eGFR normal, terjadi kerusakan ginjal yang terdeteksi oleh tes lain. 
  2. eGFR bernilai 60-89: stadium 2. Selain menurunnya eGFR ,tes lain mengindikasikan terjadinya kerusakan ginjal. Agar perkembangan kondisi ginjal dapat terus dipantau, pengidap CKD stadium satu atau stadium dua direkomendasikan untuk menjalani tes eGFR tahunan. 
  3. eGFR bernilai 30-59: stadium 3. Pada stadium ini, perlu diadakan pemeriksaan lanjutan setiap enam bulan sekali. 
  4. eGFR bernilai 15-29: stadium 4. Pada stadium ini, pengidap kemungkinan telah merasakan gejala-gejala CKD dan perlu mengikuti pemeriksaan tiap tiga bulan. 
  5. eGFR bernilai di bawah 15: stadium 5. Disebut sebagai kondisi gagal ginjal, yaitu ginjal telah kehilangan hampir seluruh fungsinya. Setiap enam minggu, pasien gagal ginjal ini perlu menjalani pemeriksaan.
Hasil eGFR dari waktu ke waktu dapat naik atau turun. Diagnosis CKD biasanya baru bisa dipastikan jika tes-tes eGFR yang dilakukan beberapa kali menunjukkan hasil konsisten di bawah normal.

Kelompok Paling Berisiko 
Pemeriksaan rutin untuk mendeteksi CKD disarankan jika Anda termasuk kelompok orang berisiko tinggi, yaitu: 
  1. Pengidap diabetes, hipertensi, lupus, stroke, penyakit jantung, dan skleroderma. 
  2. Orang yang secara teratur mengonsumsi obat  pereda sakit dalam jangka panjang seperti ibuprofen. 
  3. Orang dengan riwayat keluarga yang pernah mengidap CKD stadium lima atau mewarisi penyakit ginjal serta penyakit saluran ginjal struktural, seperti batu ginjal dan pembesaran prostat. 
  4. Pengidap hematuria (dalam urinnya terdapat darah) atau proteinuria (terdapat protein dalam urin) yang penyebabnya belum diketahui. 
  5. Orang yang mengonsumsi rutin obat-obatan yang membahayakan ginjal, seperti litium dan kalsineurin. 
  6. Orang dengan riwayat kesehatan keluarga berpenyakit ginjal.
Jika tes urin atau darah mengindikasikan kemungkinan bahwa ginjal tidak berfungsi dengan baik, umumnya dokter akan menetapkan diagnosis adanya penyakit ginjal.

Pengobatan Gagal Ginjal Kronis 
Penyakit ginjal tidak dapat disembuhkan. Perawatan difokuskan untuk mencegah dan memperlambat agar penyakit tidak berkembang serta meredakan rasa sakit. Selain itu, pengobatan juga bertujuan untuk mengurangi risiko munculnya penyakit lainnya yang terkait.

Pengobatan Sesuai Tingkat Keparahan 
Tingkat keparahan chronic kidney disease (CKD) menentukan jenis pengobatan yang diberikan. Dalam beberapa kasus, kerusakan pada ginjal dan sirkulasi tubuh dapat dicegah dengan konsumsi obat-obatan untuk mengontrol tekanan darah dan menurunkan kadar kolesterol dalam darah Anda.
Di samping itu, obat-obatan juga diberikan untuk mengontrol atau mencegah CKD berkembang hingga tubuh kehilangan hampir semua fungsi ginjal. Kondisi ini disebut dengan gagal ginjal permanen atau established renal failure (ERF).
Setidaknya 1 dari 100 pengidap CKD stadium tiga akan mengidap gagal ginjal. Pengidap gagal ginjal membutuhkan perawatan lebih lanjut untuk menggantikan sejumlah fungsi ginjal. Untuk mengetahui lebih banyak informasi, Anda dapat mengunjungi Registrasi Ginjal Indonesia atau Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI).

Menjaga Tekanan Darah 
Tekanan darah tinggi dapat mempercepat perkembangan kerusakan ginjal. Oleh sebab itu penting untuk mengontrol tekanan darah yang dapat dilakukan dengan mengubah gaya hidup seperti mengurangi konsumsi garam dan mengurangi berat badan.
Namun jika perubahan ini belum cukup untuk mengontrol tekanan darah, Anda mungkin membutuhkan obat-obat antihipertensi seperti penghambat ACE (angiotensin converting enzyme). Obat penghambat ACE memberikan perlindungan tambahan pada ginjal dan mengurangi tekanan darah dalam tubuh serta mengurangi tekanan pada pembuluh darah. Contoh penghambat ACE adalah ramipril dan lisinorpil.
Selain itu terdapat juga obat anti-hipertensi yang disebut angiotensin-II receptor blocker (ARB) meliputi: candersatan, eprosartan, irbesartan, dan losartan. Efek samping dari jenis obat ini jarang namun tetap ada, misalnya rasa pusing.

Perubahan Gaya Hidup 
Selain konsumsi obat-obatan, perkembangan CKD dan tekanan darah tinggi dapat dicegah dengan perubahan gaya hidup sebagai berikut:
  1. Mengurangi berat badan, terutama jika Anda mengalami obesitas. 
  2. Berolahraga teratur. 
  3. Berhenti merokok. 
  4. Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang dan rendah lemak 
  5. Membatasi konsumsi minuman keras. 
  6. Menjaga konsumsi garam tidak lebih dari 6 gram atau satu sendok teh per hari. 
  7. Kecuali diresepkan oleh dokter, hindari konsumsi obat anti-inflamasi non-steroid seperti ibuprofen.
Perbaikan Keseimbangan Fosfat 
Kelebihan fosfat pada tubuh biasanya disaring oleh ginjal. Namun penumpukan fosfat akan terjadi pada ginjal yang tidak berfungsi dengan baik, seperti pada pengidap penyakit ginjal stadium empat atau lima. Maka dari itu, pengidap penyakit ginjal stadium menengah ke atas akan disarankan untuk mengurangi konsumsi fosfat yang umumnya terkandung dalam daging merah, produk olahan ternak sapi, telur, dan ikan. 
Selain itu, penderita akan disarankan untuk mengonsumsi obat-obatan yang disebut pengikat fosfat. Contoh pengikat fosfat yang paling umum digunakan adalah kalsium karbonat. Walau jarang terjadi, pengikat fosfat dapat menimbulkan efek samping yang meliputi: konstipasi, diare, mual, sakit perut, perut kembung, ruam serta gatal-gatal pada kulit.

Aspirin atau Statin 
Beberapa faktor risiko CKD seperti tekanan darah tinggi dan tingginya kadar kolesterol dalam darah, sama dengan faktor risiko serangan jantung dan stroke. 
Dengan memiliki faktor risiko yang sama, pengidap CKD berisiko lebih tinggi menderita sakit jantung, termasuk serangan jantung atau stroke. 
Oleh sebab itu, Anda akan disarankan mengonsumsi aspirin dalam dosis rendah atau statin untuk membantu mengurangi risiko serangan jantung atau stroke. Statin bekerja dengan menghambat efek enzim dalam hati Anda yang berguna untuk membentuk kolesterol. 
Pada beberapa kasus, statin dapat menyebabkan sakit otot, lemas, dan nyeri. Sementara efek samping lebih ringan yang dapat timbul adalah sakit perut, konstipasi, diare, dan sakit kepala.

Penumpukan Cairan (Edema) 
Ginjal yang tidak berfungsi membuat tubuh sulit membuang cairan. Akibatnya terjadi penumpukan cairan pada pergelangan kaki atau sekitar paru-paru. Oleh karena itu dokter akan menyarankan pengidap sakit ginjal untuk membatasi konsumsi cairan dan garam, serta memerhatikan cairan yang terdapat dalam makanan yang Anda konsumsi seperti buah, sup, atau yoghurt. Selain itu, kelebihan cairan dalam tubuh juga dapat dikurangi dengan konsumsi obat diuretik (tablet cair), seperti furosemida.

Konsumsi Suplemen Zat besi dan Vitamin D 
Anemia atau kondisi saat tubuh tidak memiliki cukup sel darah merah banyak diderita pengidap CKD stadium tiga ke atas. Suplemen zat besi untuk produksi sel-sel darah merah biasanya akan diberikan untuk mengatasinya. Zat ini dapat diberikan dalam beberapa suntikan ke dalam pembuluh darah atau dalam bentuk tablet seperti ferri sulfat. 
Hormon eritropoietin yang membantu tubuh memproduksi sel darah merah juga bisa disuntikkan jika langkah-langkah di atas tidak dapat mengatasi anemia. Contoh-contoh suntikan ini antara lain epoetin alfa, beta dan zeta, methoxy polyethylene glycol-epoetin beta, dan darbepoetin. 
Selain itu, pengidap penyakit ginjal berisiko kekurangan vitamin D yang penting untuk tulang. Ini dikarenakan ginjal tidak dapat berfungsi mengaktifkan vitamin D dari makanan dan sinar matahari. Sehingga umumnya Anda akan mendapatkan suplemen vitamin D dengan yang disebut alfacalcidol atau calcitriol.

Pengobatan Untuk Gagal Ginjal: Cuci Darah atau Transplantasi 
Dalam beberapa kasus, penyakit ginjal kronis dapat berkembang menjadi gagal ginjal permanen atau established renal failure (ERF). Pada tahap ini, ginjal berhenti bekerja dan mengancam hidup. Kondisi ini terjadi secara perlahan-lahan dan jarang terjadi secara tiba-tiba. 
Namun banyak pengidap penyakit ginjal dapat memiliki ginjal yang berfungsi dengan baik sepanjang hidup mereka dengan menjalani perawatan. Diskusikan dengan dokter Anda tentang pilihan-pilihan pengobatan seperti cuci darah, transplantasi ginjal, atau perawatan pendukung. Perawatan pendukung bertujuan terbatas yaitu hanya untuk meringankan gejala yang dirasakan penderita stadium akhir.

Pencegahan Gagal Ginjal Kronis 
Orang yang sudah terdiagnosis mengalami penyakit ginjal dapat memperkirakan tingkat keparahannya di masa yang akan datang dengan QKidney Web Calculator. 
Umumnya penyakit ini tidak dapat dicegah sepenuhnya meski Anda dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko berkembangnya penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD).

Pola Makan Sehat 
Pola makan sehat penting untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan menjaga tekanan darah tetap normal. Kedua kondisi ini penting untuk mencegah terjadinya penyakit ginjal kronis. Konsumsilah makanan berimbang meliputi banyak sayuran dan buah segar. 
Selain itu, kontrol kadar kolesterol dengan menghindari makanan kaya lemak jenuh tinggi seperti goreng-gorengan, mentega, santan kelapa, keju, kue, biskuit, serta makanan-makanan yang mengandung minyak kelapa atau minyak sawit. 
Sebaliknya, Anda disarankan untuk mengonsumsi makanan yang kaya lemak tidak jenuh yang dapat mengurangi kadar kolesterol, antara lain minyak ikan, avocad, kacang dan biji-bijian, minyak bunga matahari, minyak biji sesawi, minyak zaitun. 
Selain itu, terlalu banyak garam juga akan meningkatkan tekanan darah. Penting untuk membatasi konsumsi garam tidak lebih dari 6 gram sehari yang setara dengan satu sendok teh penuh.

Hindari Rokok dan Minuman Keras 
Selain meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, merokok dan mengonsumsi minuman keras dapat memperburuk kondisi gangguan ginjal yang sudah terjadi. Selain meningkatkan kadar kolesterol dalam darah, mengonsumsi minuman keras secara berlebihan akan meningkatkan tekanan darah Anda. Pastikan Anda tidak mengonsumsi lebih dari 2-2,5 kaleng bir berkadar alkohol 4,7% per hari.

Olahraga Teratur 
Naiknya tekanan darah dan risiko berkembangnya CKD dapat diminimalkan dengan olahraga teratur. Anda disarankan untuk menjalankan aktivitas aerobik dengan intensitas menengah seperti berenang atau lari pagi selama setidaknya 2 -3 jam tiap minggu.

Baca Petunjuk Obat 
Pastikan Anda mengikuti petunjuk pemakaian jika Anda memang harus mengonsumsi obat pereda sakit. Konsumsi obat anti-inflamasi non-steroid seperti aspirin dan ibuprofen dalam dosis berlebih dapat menyebabkan gangguan ginjal. 

Waspada Diabetes 
Penyakit kronis (bersifat menetap dalam jangka panjang), seperti diabetes, dapat berpotensi menyebabkan gangguan ginjal kronis. Tiap tahun, pengidap diabetes disarankan untuk memeriksakan fungsi ginjalnya. Ikuti saran dokter dan lakukan langkah-langkah untuk menjaga kondisi Anda.
Baca selengkapnya

Treatment of Cold Allergic

Definition 
Cold allergy or in medical terms is called cold urticaria is a skin reaction to the cold that causes the appearance of lesions that itch and the skin becomes reddish.
The severity of cold allergy symptoms that appear on each person is different. Most people can lose consciousness, blood pressure is very low, and even the worst can lead to death.
Adolescence is the age most often affected by cold allergies, but usually disappears completely within a few years. 

Symptom 
Cold allergy symptoms usually appear when the skin is exposed to cold water or cold weather. Cold allergy are also more at risk appears in windy and damp conditions. Here are some cold allergy symptoms that can occur.
  1. When holding a cold object, the hand was swollen. 
  2. Emerging lesions that itch. 
  3. When you eat food or cold drinks, lips and throat felt swollen. 
  4. Skin reddish. 
  5. As the skin becomes warmer, the symptoms got worse.
In more severe cases, symptoms can occur potentially endanger lives such as swelling of the throat and tongue making it hard to breathe, and anaphylactic reactions that can cause blood pressure dropped dramatically, palpitations, fainting, swelling of arms and legs or torso.
Anaphylaxis is the body's reaction arising from the condition of hypersensitivity to a allergy triggers substance.
Cold allergy sufferers who swim in cold water, causing the entire skin is exposed to cold water, can have a severe reaction to loss of consciousness and drowned.
Generally, cold allergy will disappear by itself after a few weeks or months, but there are also last longer. If the throat or tongue feels swollen, felt dizziness, and difficulty breathing, see your doctor. 

Cause 
Cold allergic reactions caused by the release of histamine and other chemicals into the bloodstream that is triggered by cold weather. However, the exact cause of why the body reacts to the cold thus unknown.
There are several factors that can increase the risk of cold allergy, as following:
  1. Children and adolescents. They are the most commonly affected age of cold allergy and usually improves by itself within a few years. 
  2. Disease specific basis. There are several health disorders or diseases, such as cancer or hepatitis which increase the risk of cold allergy. 
  3. Infection. They were recently exposed to infections such as pneumonia or inflammation of the lungs more at risk of cold allergy. 
  4. Genetics. There are children who inherit the disease from their parents, but this is very rare.
Diagnosis 
To diagnose a cold allergy is easy, simply by putting ice cubes in the skin for five minutes. If after a while after moving the ice appears red bumps, then you suffer from cold allergy. 

Treatment 
There is no cure for cold allergies, but treatment to prevent or reduce the symptoms of this disease can be done by taking an antihistamine.
Additionally, you can consult to your doctor for a prescription drug that suits to you. Some prescription drugs that can be used to treat cold allergy is cyproheptadine, omalizumab, and doxepin. 

Prevention 
Prevention of cold allergy can be done with some thing like below.
  1. To prevent swelling of the throat, avoid eating cold food and drinks. 
  2. Taking medication as the doctor. 
  3. Tell your doctor or medical personnel if you are going to undergo surgery to prevent the onset of allergic symptoms of cold in the operating room. 
  4. Before exposure to cold weather, it is advisable to take an antihistamine. 
  5. Protect your skin from the temperature dropped dramatically or cold weather. 
  6. Bring a shot of adrenaline to anywhere you go in order to prevent an anaphylactic reaction occurs.
Baca selengkapnya

Diabetes Mellitus dan Komplikasinya

Pendahuluan 
Jumlah penduduk dunia yang menderita Diabetes Mellitus cenderung meningkat dari tahun ketahun. Indonesia sendiri saat ini menduduki rangking ke 4 (empat) dunia setelah Amerika Serikat, China, dan India dalam prevalensi diabetes. Dari berbagai penelitian epidemiologi yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa peningkatan prevalensi akan lebih menonjol perkembangannya di negara berkembang dibandingkan dengan negara maju. Tahun 2007 prevalensi diabetes mellitus di Indonesia sebesar 1,2% - 2,3% dari seluruh penduduk, maka diperkirakan pada tahun 2030 akan ada sebanyak 20,1 juta penderita diabetes di Indonesia. Peningkatan jumlah penderita diabetes yang besar ini disebabkan karena faktor demografi, gaya hidup yang kurang sehat, serta kurang patuh dalam pengelolaan diet dan pengobatan. Data-data diatas menimbulkan keprihatinan dan perlunya kewaspadaan kita untuk mengenal lebih dalam mengenai Diabetes Mellitus. Apa itu diabetes mellitus (DM)? Bagaimana gejala DM? Apa bahaya diabetes sehingga sering dijuluki “the sillent killer” atau “Pembunuh Diam-diam”? (wow, ngeri juga) Dapatkah DM disembuhkan? Itulah pertanyaanpertanyaan yang akan coba kita bahas berikut ini.

Apa itu Diabetes Mellitus?
Istilah Diabetes mellitus (DM) memiliki arti “gula madu”. Istilah ini berasal dari Bahasa Yunani, artinya “mengalirkan melalui pipa dengan tekanan atmosfer” dan dari Bahasa Latin, artinya “semanis madu”. Dengan kata lain, pengertian diabetes yaitu air yang mengalir melewati tubuh penderita DM dari mulut langsung keluar melalui saluran kemih. Air seni diabetisi rasanya manis karena mengandung gula. Dulu, salah satu tes untuk diabetes adalah dengan menuangkan air seni pasien ke dekat sarang semut. Jika semut mengerumuni air seni tersebut, suatu pertanda bahwa pasien tersebut menderita DM. Itu sebabnya diabetes sering disebut sebagai penyakit kencing manis. Ketika seseorang menderita DM maka pankreas tidak dapat menghasilkan cukup insulin untuk menyerap gula yang diperoleh dari makanan, atau tubuh memproduksi insulin yang cacat, atau tubuh tidak dapat memanfaatkan insulin dengan baik. Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh sel β Pulau Langerhans pankreas. Hormon ini melekatkan dirinya pada reseptor-reseptor yang ada pada dinding sel. Insulin bertugas untuk membuka reseptor pada dinding sel agar glukosa memasuki sel untuk diubah melalui proses pembakaran / metabolisme menjadi energi untuk melakukan aktivitas. Jika jumlah insulin tidak cukup, maka terjadi penimbunan gula dalam darah sehingga menyebabkan diabetes.
Gambar : Cara Kerja Insulin
Ada banyak pembagian DM, antara lain DM tipe 1, DM tipe 2, DM tipe lain, DM gestasional / kehamilan, dan pra-DM. Namun pada artikel ini hanya akan dibahas mengenai diabetes tipe 1 dan tipe 2, yang sering dialami oleh diabetisi.

Diabetes Mellitus Tipe 1. DM tipe 1 atau yang dulu dikenal dengan nama Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM), terjadi karena kerusakan sel β (beta) pankreas. Bila kerusakan sel beta telah mencapai 80-90% maka gejala DM mulai muncul. Perusakan sel β ini lebih cepat terjadi pada anak-anak daripada dewasa. Sebagian besar penderita DM tipe 1 mempunyai antibodi yang menunjukkan adanya proses autoimun. Sebagian kecil tidak terjadi proses autoimun, sehingga digolongkan sebagai tipe 1 idiopatik. Autoimun adalah kegagalan suatu organisme untuk mengenali bagian dari diri sendiri sebagai bagian dari dirinya, yang membuatrespon kekebalan melawan sel & jaringan milik sendiri. Sebagian besar (75%) kasus terjadi sebelum usia 30 tahun, tetapi usia tidak termasuk kriteria untuk klasifikasi.

Diabetes Mellitus Tipe 2. DM tipe 2 merupakan 90% dari kasus DM yang dulu dikenal sebagai Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Pada diabetes ini terjadi penurunan kemampuan insulin bekerja di seluruh jaringan tubuh (insulin resistance) dan kelainan fungsi sel β. Akibatnya, walau pankreas masih dapat memproduksi insulin namun jumlahnya tidak cukup untuk mengkompensasi / mengatasi ketidakmampuan tubuh dalam menggunakan insulin tadi. Kedua hal ini menyebabkan terjadinya defisiensi insulin relatif. Gejala DM tipe 2 hampir-hampir tidak terdeteksi dan kegemukan sering berhubungan dengan kondisi ini, umumnya terjadi pada usia >40 tahun. Kadar insulin bisa normal, rendah, maupun tinggi karena penumpukan insulin dalam darah yang tidak terpakai, sehingga penderita tidak tergantung pada pemberian insulin. 
Beberapa penyebab utama DM tipe 2 sebagai berikut:
  1. Faktor keturunan, apabila orang tua atau saudara sekandung yang menderita DM. 
  2. Pola makan atau gaya hidup tidak sehat. 
  3. Kadar kolesterol yang tinggi. 
  4. Jarang berolahraga. 
  5. Obesitas atau kelebihan berat badan.
Semua penyebab diabetes tipe 2 umumnya karena gaya hidup yang tidak sehat. Hal ini membuat metabolismedalam tubuh tidak sempurna sehingga membuat insulin dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik. Hormon insulin dapat diserap oleh lemak dalam tubuh, sehingga pola makan dan gaya hidup tidak sehat bisa membuat tubuh kekurangan insulin.

Hiperglikemia 
Kadar glukosa dalam darah yang tinggi di atas 200 mg/dl, merupakan kadar yang melebihi ambang batas ginjal. Akibatnya glukosa akan dikeluarkan oleh ginjal melalui air kemih/urine, dan hasil pemeriksaan glukosa dalam urine selalu positif. Glukosa dalam urine akan meningkatkan produksi dan pengeluaran urine, sehingga diabetisi akan sering dan banyak membuang air kemih (poliuri). Sering berkemih dalam jumlah banyak akan menyebabkan penurunan jumlah cairan dalam tubuh, yang berakibat diabetisi akan sering dan banyak minum (polidipsi). Glukosa sebagai sumber energi banyak yang terbuang saat berkemih, berakibat diabetisi akan lemah dan loyo, sehingga diabetisi juga semakin sering lapar dan banyak makan (polifagi). Sering kesemutan pada ujung jari tangan dan kaki (polineuropati perifer), gatal-gatal di kulit (pruritus). Semua hal tersebut di atas merupakan gejala dan tanda seseorang mengidap DM. 
Kadar glukosa yang tinggi di atas 200 mg/dl dalam waktu lama akan menimbulkan gangguan fungsi sel. Karena tubuh tidak dapat menggunakan glukosa sebagai sumber energi, maka tubuh akan memecah lemak dan protein sebagai sumber energi. Akibatnya akan terjadi penurunan berat badan yang drastis. Penderita tampak makin kurus. Kerusakan tubuh akan menjadi lebih hebat bila diabetisi juga mengidap penyakit lain, yaitu tekanan darah tinggi / hipertensi, kadar lemak dalam darah tinggi/hiperkolesterolemia, kadar trigliserida tinggi dan HDL rendah / dislipidemia, peningkatan berat badan/berat badan berlebih atau obesitas, maupun kebiasaan merokok. 
Hasil akhir dari keadaan di atas adalah komplikasi berupa kerusakan beberapa organ penting, antara lain kelumpuhan oleh karena stroke, kebutaan akibat kerusakan lensa mata / katarak diabetika ataupun kerusakan selaput jala mata / retinopati diabetika, serangan jantung akibat penyempitan/ischaemic myocard ataupun sumbatan pembuluh darah koroner jantung/acute myocard infarct, yang sering berujung pada kematian, gagal ginjal/nefropati diabetika yang mengharuskan penderita menjalani cuci darah seumur hidup, terjadinya luka/ulkus (biasanya pada kaki) yang lama sembuh dan terkadang perlu tindakan amputasi sehingga menyebabkan kecacatan, serta impotensi yang mengakibatkan stress pada seorang lelaki.

Hipoglikemia 
Seorang penderita DM dapat secara tiba-tiba mengalami penurunan kadar gula darah yang sangat rendah di bawah ambang normal yang disebut hipoglikemia. Hal ini ditandai dengan gemetar, berkeringat, lelah, lapar, denyut jantung cepat sekali, pandangan kabur, nyeri kepala, tubuh kebas, atau kesemutan di sekitar mulut dan bibir. Bahkan bisa kejang atau pingsan. Hal ini terjadi bila mengonsumsi obat anti DM yang tidak disertai cukup asupan makanan. Otak menggunakan glukosa sebagai sumber energi utama. Kondisi ini sangat berbahaya karena menyebabkan kerusakan otak. Tak jarang berakhir pada koma hipoglikemia yang mematikan.
Gambar : Bermacam Komplikasi DM
Ketoasidosis Diabetikum 
Akibat badan tidak dapat menggunakan glukosa sebagai sumber energi, maka tubuh akan memecah lemak dan pada akhirnya protein untuk digunakan sebagai sumber energi. Namun saat tubuh membakar lemak, terbentuklah hasil sampingan berupa benda keton. Keton bersifat asam sehingga dalam kadar tinggi dapat menyebabkan gangguan keseimbangan metabolisme tubuh yang disebut ketoasidosis diabetikum. Gejala awalnya sama seperti DM. Pernafasan menjadi cepat dan dalam karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah. Bau napas tercium seperti bau apel manis atau aseton. Ketoasidosis bisa berkembang menjadi koma hiperglikemia, yang juga dapat berujung pada kematian. Mengingat bahaya komplikasi DM yang menakutkan, maka sudah seharusnya kita memberi perhatian lebih terhadap penyakit ini. Tidak hanya penderita DM, tetapi seluruh anggota keluarga juga harus menjadi pendukung pasien agar dibetisi selalu patuh dan menjaga kondisi tubuh sehingga jauh dari komplikasi DM. Obat penyembuh DM memang tidak ada, tetapi dengan mengendalikan kadar gula darah, seseorang dapat terhindar dari bahaya penyakit ini. Mengubah gaya hidup menjadi lebih baik dan lebih sehat harus segera dijalankan. Orang-orang yang menduga bahwa dirinya menderita diabetes hendaknya memeriksakan diri ke dokter dalam upaya pencegahan dan penanganan penyakit DM serta komplikasinya.
Baca selengkapnya